akhwat… Dilarang Pulang malam

Akhwat (dilarang) Pulang Malam*

(Untukku, untukmu, untuk kita wanita muslimah!!!)

“Akhwat itu tidak baik pulang malam!”
Teguran tersebut tidak dapat begitu saja diterima oleh akhwat. Tuntutan kuliah, tugas, dan amanah seperti BEM dan organisasi lainnya yang belum terkondisikan, seringkali memposisikan mereka untuk pulang larut malam. Bahkan, saat ini, fenomena seorang akhwat yang pulang larut malam seolah menjadi hal yang biasa.

Tapi, percayalah bahwa sebenarnya dalam lubuk hati yang terdalam, para akhwat pun merasa tidak nyaman jika harus pulang malam. Ada beban mental menghadapi tanggapan dan pandangan masyarakat. Ada kecemasan akan pelanggaran kode etik tak tertulis mengenai bagaimana sikap dan perbuatan seorang “wanita baik-baik” di mata sosial yang menganut penuh prinsip budaya ketimuran.

Memang, kesemuanya itu hanyalah peraturan dan pandangan yang dibuat oleh manusia, bukan peraturan Al-Quran maupun hadis yang tak dapat dirubah. Akan tetapi kita ini hidup bermasyarakat, hidup dengan orang lain, tentunya harus menghormati peraturan yang ada. Dengan demikian kita dapat mencerminkan bahwa Islam juga sangat mempertimbangkan keutamaan muamalah. Dan dengan menghargai peraturan yang ada di masyarakat (tentu peraturan yang logis dan tidak bertentangan dengan nilai-nilai syariat Islam), kita telah melakukan sebagian dari dakwah.

Mari membangun persepsi terlabih dahulu mengenai parameter kata malam. Drs. Moh. Rifa’i dalam bukunya yang berjudul “Risalah Tuntunan Sholat Lengkap”, khususnya bab salat sunnah tahajud, memaparkan pembagian malam menjadi tiga, yaitu:
Sepertiga malam pertama : pukul 19.00-22.00
Sepertiga malam kedua : pukul 22.00-01.00
Sepertiga malam ketiga : pukul 01.00-menjelang subuh

Dengan demikian, waktu malam terhitung sejak sekitar pukul 19.00. Akan tetapi sebagian aktivis terkadang membuat kebijakan tentang malam yang dimaksud, misalnya malam dimulai sejak maghrib, atau malam adalah lebih dari pukul 21.00. Pembuatan kebijakan tersebut sebenarnya sah-sah saja dengan syarat sang pembuat kebijakan memang mengetahui seluk beluk lingkup penerapannya sehingga menimbulkan kebaikan bagi sasaran. Yang jelas, waktu-waktu di atas pukul 21.00 adalah waktu yang sudah teramat malam bagi muslimah atau wanita untuk berada di luar rumah.

Kembali pada soal akhwat yang pulang larut malam. Sebenarnya, apakah penyebab akhwat dipandang tidak baik dan bahkan dilarang untuk pulang malam? Adakah dalil yang menyatakan bahwa akhwat dilarang pulang malam?

Akhwat dilarang untuk pulang malam pada dasarnya adalah untuk menghindari dua fitnah. Yang pertama adalah fitnah keamanan. Memang sudah diartikan secara klasik bahwa pada malam hari yang gelap, kriminalitas dan kejahatan akan banyak dilakukan, di mana pun tempatnya dan apa pun bentuknya. Selain itu, dalam QS. Al-Falaq ayat 1-3 ( Katakanlah: “aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh, dari kejahatan makhluknya, dan dari kejahatan malam apabila gelap gulita….”) disebutkan “kejahatan malam apabila gelap gulita”. Hal ini menunjukkan bahwa Al-Quran pun telah mengisyaratkan bahwa pada malam hari ada banyak kejahatan dilakukan. Hal tersebut tentu akan menjadi ancaman berbahaya, khususnya bagi para akhwat yang tak dapat dipungkiri bahwa mayoritas tidak mampu melakukan pelindungan diri dari kejahatan.

Sedangkan fitnah yang kedua adalah fitnah khalwat dengan lain jenis. Pada kondisi tertentu, ketika akhwat tidak berani pulang sendirian pada malam hari, maka akan ada ikhwan yang merasa kasihan dan kemudian mengantarkannya. Semoga niatnya tercatat sebagai kebaikan. Namun, pulang larut malam bersama lawan jenis bukanlah sebuah tindakan yang bijak karena justru akan menimbulkan berbagai macam asumsi masyarakat, misalnya tentang “apa yang dilakukan oleh sepasang ikhwan dan akhwat sampai malam begini?”. Juga asumsi-asumsi lain yang nantinya berbuah fitnah.

Para ulama pun telah memberi isyarat bahwa malam hari itu banyak bertebaran fitnah sehingga lebih baik banyak berzikir di rumah dari pada berkeliaran di luar rumah.
Fitnah-fitnah yang ada (terutama yang sebenarnya bisa dicegah tapi timbul karena perbuatan sendiri) akan berpotensi menurunkan izzah (wibawa, harga diri, kemuliaan) seorang akhwat. Padahal, seorang akhwat dengan segala atribut kemuslimahannya harusnya memiliki dan mampu menjaga izzah serta menjadi teladan kebaikan bagi orang-orang di sekitarnya. Tidak pulang larut malam adalah salah satu bentuk dakwah dengan keteladanan.

Memang, tidak ada dalil yang melarang akhwat pulang malam, tapi justru lebih dari itu, dalam sebuah hadis disebutkan, “Tidak halal bagi wanita Muslimah untuk bermusafir kecuali bersamanya mahromnya”(HR:Bukhori).

Pergi bersama mahromkah para akhwat yang pulang malam itu? Kebanyakan tidak. Dalam hadis tersebut bahkan wanita dilarang keluar rumah sama sekali. Namun, dalam menyikapi hadis ini, para ulama shalafussolih telah memberikan batasan-batasan yang sangat tegas bahwa muslimah diharamkan bepergian tanpa mahromnya kecuali dalam tiga hal, yaitu: untuk menyelamatkan akidahnya, menuntut ilmu, dan untuk hal-hal yang bersifat durori. Semoga ini bisa menjadi pertimbangan dalam menanggapi larangan pulang malam.

Fenomena akhwat pulang malam memang seperti sulit dihindari jika alasannya tugas dan amanah. Apalagi bagi akhwat yang tinggal di kos-kosan atau kontrakan yang notabene tidak mendapat pengawasan intensif orang tua. Mereka, termasuk diri ini, akan lebih bebas untuk pulang larut malam.

Saya teringat nasehat seorang saudara yang mengingatkan ancaman fitnah di malam hari, namun saya meyakinkan bahwa saya akan baik-baik saja. Lantas, beliau mengondisikan saya untuk membayangkan jika orang tua kita mengetahui kita, putri kesayangannya, pulang larut malam. Akan ridakah mereka? Tentu tidak. Mereka akan sangat khawatir jika putrinya belum pulang ketika malam beranjak larut. Kita hanya akan menyiksa mereka dalam kecemasan. Lalu, jika orang tua pun tidak rida, bagaimana dengan Allah? Sementara “rida Allah bergantung pada rida orang tua, dan kemurkaan Allah bergantung pada kemurkaan orang tua” (HR Bukhori, Ibnu Hibban, Tirmidzi, Hakim). Jika Allah tidak rida, berarti sia-sia saja apa yang telah dan akan kita lakukan.

Jika kita yakin bahwa dua fitnah yang dipaparkan di atas akan jauh dari kita, sehingga merasa saah saja pulang malam, jangan lupakan juga bahwa kita memiliki dan harus menjaga izzah sebagai muslimah. Selain itu, pertimbangkan pula keridaan orang tua atas apa yang kita lakukan, sebab rida Allah bergantung pada rida mereka.

Sebaiknya, kita lebih selektif lagi dalam mengikuti kegiatan yang selesai di malam hari. Apalagi jika kita pergi tanpa mahrom. Semoga pemikiran dengan bahasa sederhana ini dapat bermanfaat bagi kita. Menjadi renungan bagi diri sendiri dan kita semua, akhwat yang terjaga izzahnya. Wallahoa’lam bishowab.

#eramuslim.com

Hadist Hadist Tentang Wanita….

1. Abdullah bin Amr radhiallahu ‘anhuma meriwayatkan sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam:

“Sesungguhnya dunia itu adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah.” (HR. Muslim no. 1467)

2. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Umar ibnul Khaththab radhiallahu’anhu:

“Maukah aku beritakan kepadamu tentang sebaik-baik perbendaharaan seorang lelaki, yaitu istri shalihah yang bila dipandang akan menyenangkannya, bila diperintah akan mentaatinya, dan bila ia pergi si istri ini akan menjaga dirinya.” (HR. Abu Dawud no. 1417. Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah berkata dalam Al-Jami’ush Shahih 3/57: “Hadits ini shahih di atas syarat Muslim.”)

3. Berkata Al-Qadhi ‘Iyyadh rahimahullah:

“Tatkala Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menerangkan kepada para sahabatnya bahwa tidak berdosa mereka mengumpulkan harta selama mereka menunaikan zakatnya, beliau memandang perlunya memberi kabar gembira kepada mereka dengan menganjurkan mereka kepada apa yang lebih baik dan lebih kekal yaitu istri yang shalihah yang cantik (lahir batinnya) karena ia akan selalu bersamamu menemanimu.

Bila engkau pandang menyenangkanmu, ia tunaikan kebutuhanmu bila engkau membutuhkannya. Engkau dapat bermusyawarah dengannya dalam perkara yang dapat membantumu dan ia akan menjaga rahasiamu. Engkau dapat meminta bantuannya dalam keperluan-keperluanmu, ia mentaati perintahmu dan bila engkau meninggalkannya ia akan menjaga hartamu dan memelihara/mengasuh anak-anakmu.” (‘Aunul Ma‘bud, 5/57)

4. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah pula bersabda:

“Empat perkara termasuk dari kebahagiaan, yaitu wanita (istri) yang shalihah, tempat tinggal yang luas/ lapang, tetangga yang shalih, dan tunggangan (kendaraan) yang nyaman. Dan empat perkara yang merupakan kesengsaraan yaitu tetangga yang jelek, istri yang jelek (tidak shalihah), kendaraan yang tidak nyaman, dan tempat tinggal yang sempit.” (HR. Ibnu Hibban dalam Al-Mawarid hal. 302, dishahihkan Asy-Syaikh Muqbil dalam Al-Jami’ush Shahih, 3/57 dan Asy-Syaikh Al Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah no. 282)

5. Ketika Umar ibnul Khaththab radhiallahu’anhu bertanya kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam:

“Wahai Rasulullah, harta apakah yang sebaiknya kita miliki?” Beliau Shallallahu’alaihi wa sallam menjawab:

“Hendaklah salah seorang dari kalian memiliki hati yang bersyukur, lisan yang senantiasa berdzikir dan istri mukminah yang akan menolongmu dalam perkara akhirat.” (HR. Ibnu Majah no. 1856, dishahihkan Asy-Syaikh Al Albani rahimahullah dalam Shahih Ibnu Majah no. 1505)

6. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bagi lelaki yang ingin menikah:

“Wanita itu dinikahi karena empat perkara yaitu karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Maka pilihlah olehmu wanita yang punya agama, engkau akan beruntung.” (HR. Al-Bukhari no. 5090 dan Muslim no. 1466)

7. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Wanita (istri) shalihah adalah yang taat lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada dikarenakan Allah telah memelihara mereka.” (An-Nisa: 34)

8. Al Bukhori meriwayatkan dari Abu Hurairah rodhiallohu anhu dari Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, yang artinya:

“Barangsiapa yang beriman kepada Alloh dan hari Akhir, janganlah ia mengganggu tetangganya, dan berbuat baiklah kepada wanita. Sebab, mereka diciptakan dari tulang rusuk, dan tulang rusuk yang paling bengkok adalah bagian atasnya. Jika engkau meluruskannya. Maka engkau mematahkannya dan jika engkau biarkan, maka akan tetap bengkok. Oleh karena itu, berbuatlah baik kepada wanita.” (HR. Bukhori dan Muslim)

9. Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata:

“Tugas seorang istri adalah menunaikan ketaatan kepada Rabbnya dan taat kepada suaminya, karena itulah Allah berfirman:

“Wanita shalihah adalah yang taat,” yakni taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada.” Yakni taat kepada suami mereka bahkan ketika suaminya tidak ada (sedang bepergian), dia menjaga suaminya dengan menjaga dirinya dan harta suaminya.” (Taisir Al-Karimir Rahman, hal.177)

10. Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

“Apabila seorang wanita shalat lima waktu, puasa sebulan (Ramadhan), menjaga kemaluannya dan taat kepada suaminya, maka dikatakan kepadanya: Masuklah engkau ke dalam surga dari pintu mana saja yang engkau sukai.” (HR. Ahmad 1/191, dishahihkan Asy-Syaikh Al Albani rahimahullah dalam Shahihul Jami’ no. 660, 661)

11. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Maukah aku beritahukan kepada kalian, istri-istri kalian yang menjadi penghuni surga yaitu istri yang penuh kasih sayang, banyak anak, selalu kembali kepada suaminya. Di mana jika suaminya marah, dia mendatangi suaminya dan meletakkan tangannya pada tangan suaminya seraya berkata:

“Aku tak dapat tidur sebelum engkau ridha.”
(HR. An-Nasai dalam Isyratun Nisa no. 257. Silsilah Al-Ahadits Ash Shahihah, Asy-Syaikh Al Albani rahimahullah, no. 287)

12. Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

“Tidak halal bagi seorang istri berpuasa (sunnah) sementara suaminya ada (tidak sedang bepergian) kecuali dengan izinnya”. (HR. Al-Bukhari no. 5195 dan Muslim no. 1026)

13. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah bersabda:

“Allah tidak akan melihat kepada seorang istri yang tidak bersyukur kepada suaminya padahal dia membutuhkannya.” (HR. An-Nasai dalam Isyratun Nisa. Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah no. 289)

14. Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:
“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah seorang suami memanggil istrinya ke tempat tidurnya lalu si istri menolak (enggan) melainkan yang di langit murka terhadapnya hingga sang suami ridha padanya.” (HR. Muslim no.1436)

15. Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

“Apabila seorang istri bermalam dalam keadaan meninggalkan tempat tidur suaminya, niscaya para malaikat melaknatnya sampai ia kembali (ke suaminya).” (HR. Al-Bukhari no. 5194 dan Muslim no. 1436)

16. Ahmad dari Abu Hurairoh rodhiallohu anhu dari Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, yang artinya:

“Wanita itu diciptakan dari tulang rusuk, jika kamu meluruskannya. Maka kamu mematahkannya. Jadi, berlemah lembutlah terhadapnya, maka kamu akan dapat hidup bersamanya.” (HR Hakim, shohih)

17. Kisah wanita yang akan berangkat menunaikan shalat ‘ied, ia tidak memiliki jilbab, maka diperintah oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam:

“Hendaknya Saudarinya meminjaminya Jilbab untuknya.” (HR. Bukhari No. 318).

18. Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda di akhir kehidupannya, dan hal itu terjadi pada haji Wada’:

“Ingatlah, berbuat baiklah kepada wanita. Sebab, mereka itu (bagaikan) tawanan di sisi kalian. Kalian tidak berkuasa terhadap mereka sedikit pun selain itu, kecuali bila mereka melakukan perbuatan nista. Jika mereka melakukannya, maka tinggalkanlah mereka di tempat tidur mereka dan pukul lah mereka dengan pukulan yang tidak melukai.

Jika ia mentaati kalian, maka janganlah berbuat aniaya terhadap mereka. Mereka pun tidak boleh memasukkan siapa yang tidak kalian sukai ke tempat tidur dan rumah kalian. Ketahuilah bahwa hak mereka atas kalian adalah kalian berbuat baik kepada mereka (dengan mencukupi) pakaian dan makanan mereka.” (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah, shohih)

19. Ummu Salamah berkata:
“Wahai Rasulullah, bagaimana wanita berbuat dengan pakaiannya yang menjulur ke bawah?”

Beliau bersabda:

“Hendaklah mereka memanjangkan satu jengkal”,
lalu ia bertanya lagi:
“Bagaimana bila masih terbuka kakinya?”
Beliau menjawab:

“Hendaknya menambah satu hasta, dan tidak boleh lebih”. (HR. Tirmidzi 653 dan berkata: “Hadits hasan shahih”).

20. Aisyah berkata,
“Aku bertanya kepada Rasulullah, siapakah yang lebih besar haknya terhadap wanita?”
Jawab Rasulullah,
“Suaminya. ”
“Siapa pula yang berhak terhadap lelaki?”
Jawab Rasulullah,
“Ibunya.”

21. Hadits yang diriwayatkan dari Sa’ad rodhiallohu anhu bahwa Rosululloh shollallohu’alaihi wa salam bersabda padanya:

“Apapun yang engkau berikan berupa suatu nafkah kepada keluargamu, maka engkau diberi pahala, hingga sampai sesuap makanan yang engkau angkat (masukkan) ke mulut istrimu.” (HR Bukhori Muslim)

22. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman, yang artinya:

“Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya…” (QS Ar Ruum: 21)

22. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman, yang artinya:

“Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min:

“Hendaklah mereka menjulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang.” (QS. Al-Ahzab: 59).

23. Al-Hushain bin Mihshan rahimahullahu menceritakan bahwa bibinya pernah datang ke tempat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam karena satu keperluan. Seselesainya dari keperluan tersebut, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadanya:
“Apakah engkau sudah bersuami?”

Bibi Al-Hushain menjawab:
“Sudah.”
“Bagaimana (sikap) engkau terhadap suamimu?” tanya Rasulullah lagi.
Ia menjawab:
“Aku…
tidak pernah mengurangi haknya kecuali dalam perkara yang aku tidak mampu.”

Rasulullah bersabda:
“Lihatlah di mana keberadaanmu dalam pergaulanmu dengan suamimu, karena SUAMIMU ADALAH SURGA DAN NERAKAMU.”
(HR. Ahmad 4/341 dan selainnya, lihat Ash-Shahihah no. 2612)

24. Di dalam kisah gerhana matahari yang mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para shahabatnya melakukan shalat gerhana padanya dengan shalat yang panjang, beliau melihat surga dan neraka. Ketika beliau melihat neraka beliau bersabda kepada para shahabatnya:

“… Dan aku melihat NERAKA maka tidak pernah aku melihat pemandangan seperti ini sama sekali, aku melihat kebanyakan penduduknya adalah kaum WANITA.”

Para shahabat pun bertanya:
“Wahai Rasulullah, Mengapa (demikian)?”

Beliau menjawab:
“Karena kekufuran mereka.”

Kemudian mereka bertanya lagi:
“Apakah mereka kufur kepada Allah?”

Beliau menjawab:
“Mereka kufur (durhaka) terhadap suami-suami mereka, kufur (ingkar) terhadap kebaikan-kebaikannya. Kalaulah engkau berbuat baik kepada salah seorang di antara mereka selama waktu yang panjang kemudian dia melihat sesuatu pada dirimu (yang tidak dia sukai) niscaya dia akan berkata: ‘Aku tidak pernah melihat sedikitpun kebaikan pada dirimu.”
(HR. Bukhari dari Ibnu Abbas radliyallahu ‘anhuma)

25. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:
“Ada dua kelompok termasuk ahli neraka, aku belum pernah melihatnya:

Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi, mereka memukul manusia dengan cambuknya, dan wanita yang kasiyat (berpakain tapi telanjang baik karena tipis, atau pendek yang tidak menutup semua auratnya), Mailat mumilat (bergaya ketika berjalan, ingin diperhatikan orang) kepala mereka seperti punuk onta yang berpunuk dua.

Mereka tidak masuk surga dan tidak mendapatkan baunya padahal bau surga itu akan didapati dari sekian dan sekian (perjalanan 500 tahun).” (HR. Muslim 3971, Ahmad 8311 dan Imam Malik 1421).

26. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

“Wahai Asma, sesungguhnya apabila wanita sudah mendapatkan haid (yakni, telah melewati usia kanak-kanak) maka yang layak untuk dilihat darinya hanyalah ini dan ini saja.”
Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam mengisyaratkan pada wajah dan kedua telapak tangannya.

27. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

“Dan janganlah mereka (perempuan) membentakkan kaki (atau mengangkatnya) agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan.” (QS. An-Nur : 31)

28. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

“Siapa saja wanita yang memakai wangi-wangian kemudian melewati suatu kaum supaya mereka itu mencium baunya, maka wanita itu telah dianggap melakukan zina dan tiap-tiap mata ada zina.” (HR. Nasaii ibn Khuzaimah & Hibban).

29. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

“Hendaklah mereka (perempuan) melabuhkan kain kudung hingga menutupi dada mereka.” (QS. An-Nur : 31)

30. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

“Rasulullah melaknat perempuan yang mengikir gigi atau meminta supaya dikikir giginya.” (HR. At-Thabrani)

31. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya kepala yang ditusuk dengan besi itu lebih baik dari pada menyentuh kaum yang bukan sejenis yang tidak halal baginya.” (HR. At-Thabrani & Baihaqi)

32. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

“Dan katakanlah kepada perempuan mukmin hendaklah mereka menundukan sebagian dari pandangannya.” (QS. An-Nur : 31)

33. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

“Barang siapa memakai pakaian yang berlebih-lebihan, maka Allah akan memberikan pakaian kehinaan dihari akhir nanti.” (HR. Abu Daud)

34. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

“Wahai anakku Fatimah! Adapun perempuan-perempuan yang akan digantung rambutnya hingga mendidih otaknya dalam neraka adalah mereka itu di dunia tidak mau menutup rambutnya daripada dilihat laki-laki yang bukan mahramnya.” (HR. Bukhari & Muslim)

35. Dari Hamzah bin Abi Usaid al-Anshari, dari bapaknya, bahwa ia telah mendengar Rasulullah Shollallahu’alaihi wa Sallam bersabda kepada para wanita (saat itu beliau sambil keluar dari masjid, dan terlihat laki-laki dan wanita berbaur di jalan):

“Minggirlah kalian, karena tidak layak bagi kalian untuk berjalan di tengah. Kalian harus berjalan di pinggir.” Sejak saat itu, ketika para wanita berjalan keluar, mereka berjalan ditepi tembok. Bahkan baju-baju mereka sampai tertambat di tembok, karena begitu dekatnya mereka dengan tembok ketika berjalan. (HR. Abu Daud; HASAN)

36. Dari ‘Uqbah bin ‘Amir rodhiyallohu’anhu, bahwa Rasulullah Shollallahu’alaihi wa Sallam:

“Berhati-hatilah dari menemui wanita.”
Lalu berkata salah seorang dari Anshar:
“Wahai Rasulullah, bagaimana dengan saudara dari suami?”
Beliau bersabda:
“Saudara suami adalah kematian.”

37. Dari (‘Abdullah) bin ‘Umar rodhiyallohu’anhu berkata:
Rasulullah Shollallohu’alaihi wa Sallam bersabda:

“Janganlah kalian melarang wanita-wanita kalian dari masjid-masjid, akan tetapi rumah-rumah mereka adalah lebih baik untuk mereka.” (HR. Abu Daud dan Ibnu Khuzaimah; SHAHIH).

38. Dari ‘Abdillah bin Mas’ud rodhiyallohu’anhu, dari Nabi Shollallahu’alaihi wa Sallam, beliau bersabda:

“Sesungguhnya wanita adalah aurat. Sehingga ketika ia keluar rumah, ia akan disambut oleh syaithan. Dan kondisi yang akan lebih mendekatkan dirinya dengan Rabbnya adalah ketika ia berada di rumahnya.” (HR. Ibnu Khuzaimah; SHAHIH)

39. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

“Akan ada di akhir umatku kaum lelaki yang menunggang pelana seperti layaknya kaum lelaki, mereka turun di depan pintu-pintu masjid, wanita-wanita mereka berpakaian (tetapi) telanjang, di atas kepala mereka (terdapat sesuatu) seperti punuk onta yang lemah gemulai. Laknatlah mereka! sesungguhnya mereka adalah wanita-wanita terlaknat.” (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad (2/233))

40. Ahmad dari Abu Hurairoh rodhiallohu anhu dari Rosululloh shollallohu’alaihi wa sallam, beliau bersabda, yang artinya:

“Wanita itu diciptakan dari tulang rusuk, jika kamu meluruskannya. Maka kamu mematahkannya. Jadi, berlemah lembutlah terhadapnya, maka kamu akan dapat hidup bersamanya.” (HR Hakim, shohih)

Senandung Ukhuwah

Diawal kita bersua
Mencoba untuk saling memahami
Keping-keping dihati
terajut dengan indah
Rasakan persaudaraan kita

Dan masa pun silih berganti
Ukhuwah dan amanah tertunaikan
Berpeluh suka dan duka
kita jalani semua
semata mata harapkan ridhoNYA

Sahabat tibalah masanya
Bersua pasti ada berpisah
Bila nanti kita jauh berpisah
Jadikan rhobitoh pengikatnya
jadikan doa ekspresi rindu
Semoga kita bersua disyurga …

nnn

Untukmu, yang sedang merindu…

Ada yang mengatakan bahwasanya cinta memiliki kekuatan..
betapa banyak orang yang mampu menahan puasa seharian penuh…
mampu menahan bekerja berhari-hari…
mampu menahan berdiri sholat semalam suntuk …
tetapi belum tentu dia mampu menahan gejolak cinta …
Illa man rahimahullah (kecuali mereka yang dirahmati Allah) …
gejolak cinta bagaikan gejolak air yang mendidih …
gelembun buih didihnya tidak tertahankan menuju keatas …

Ada yang mengatakan bahwasanya cinta adalah anugrah,
Karena cinta, meliuk satu dahan dengan dahan yang lain …
Karena cinta, rusa jantan tunduk pada rusa betina …
Karena cinta, burung pipit menghampiri bunga di tepi sungai …

Tapi lihat bagaimana tanpa cinta …
Akan menangis tanah yang kering terhadap awan yang hitam …
Bumi tidak akan tertawa walaupun bunganya berkembang di musim semi
Dan tanpa cinta ….
tidak ada lagi bahu untuk bersandar dan …
tidak ada pula pangkuan untuk menangis ..

Ada yang mengatakan bahwasanya cinta adalah melemahkan
Lihatlah seorang laki-laki dengan segala kebesarannya…
Jalannya yang tegak dan gagah…
Otot kekarnya yang menopang teguh badannya…
Bibir dan lidahnya yang bersuara lantang…

Tatkala bertemu dengan pujaan hatinya…
Melemahlah badannya…
Seakan-akan lepas sendi-sendinya…
Bibirnya kaku tak mampu berbicara…

Dan ilhatlah wanita dengan segala kemanjaannnya…
Tatkala bertemu dengan tumpuan hatinya…
Pipinya yang merah semakin memerah…
Dan pandangannya yang tunduk semakin menunduk…
Akan tetapi mencuri pandang…

KIMIA EXPO XVIII

1521243_783459365001959_1106608528_n

Teruntuk adik-adik SMA se-provinsi Lampung..
Himaki Fmipa Unila presents…
Kimia EXPO XVIII 2014.
(Minggu ke-4 Februari)

Rangkaian Acara:
-OKI (Olimpiade Kimia Indonesia)
-LCT (Lomba Cepat Tepat)
-LKIR (Lomba Karya Ilmiah Remaja)
-Loading (Lomba Majalah Dinding)
-Seminar Manajemen Laboratorium (Guru+umum)

Dimeriahkan Oleh:
-Chemistry Care
-Bazar Himaki
-Liga Kimia
-Gebyar Himaki

pendaftaran dari tanggal 20 Januari-14 Februari 2014
pendaftaran offline : Sekertariat Himaki FMIPA Unila, lingkungan LK FMIPA Unila,Jln. Sumantri Brodjonegoro No. 1 Gedong meneng Bandar Lampung.
Pendaftaran Online : Bloghimakiunila.blogspot.com

Info
Facebook : (himakifmipa@ymail.com)
Blog Himaki : Bloghimakiunila.blogspot.com

INFO SELENGKAPNYA bisa mengunduh Buku Panduan Kimia Expo XVIII dibawah ini
Buku Panduan Kimia Expo XVIII upload

4 wanita shalihat panutan muslimah seluruh dunia

Rasulullah Saw bersabda, sebaik-baiknya wanita ahli surga adalah Khadijah binti Khuwalid, Fathimah binti Muhammad, Maryam binti Imran dan Asiyah bin Muzahim (HR. Ahmad)

Tak ada kesuksesan yang lebih baik dari memperoleh ridho Allah swt. Dan dengan menjalani peran-peran yang berbeda, empat perempuan ini telah mengukir diri menjadi sosok wanita teladan yang sukses meniti hidup mereka di dunia dalamkebenaran hingga mendapat keutamaan di akhirat.

1. Khadijah, di antara kemandirian dan ketundukan
Khadijah binti Khuwailid adalah wanita yang berasal dari golongan terpandang di Mekah. Dia juga merupakan gambaran langka wanita pebisnis sukses. Bekal kebangsawanan, kecerdasan, serta harta perniagaan yang banyak membentuk pribadi Khadijah menjadi sosok yang mandiri, apalagi setelah dia mengalami masa wafatnya dua orang suami.
Ketika menikah lagi, suami ketiganya adalah Muhammad bin Abdullah, pemuda yang baik akhlaknya namun miskin dan jauh lebih muda usianya. Tetapi perbedaan usia dan kekayaan tidak membuat Muhammad menjadi minder atau cemburuan dengan kesuksesan istrinya. Khadijah pun tidak menjelma menjadi istri sok tahu atau besar kepala. Bahkan rumah tangga mereka menjadi rumah tangga yang kokoh, saling topang, saling percaya dan penuh cinta kasih.
Menjelang masa diturunkannya wahyu, Rasulullah mulai sering menyepi di Gua Hira dan bertafakur. Kadang hal ini berlangsung hingga beberapa hari dan untuk keperluan itu Khadijahlah yang mempersiapkan bekalnya.
Begitu pula pada saat misi kenabian pertama kali diterima Rasulullah saw, dan menjadi sebuah pengalaman yang mengguncangkan hati, Khadijah memberikan reaksi supportif luar biasa. Beliau menyelimuti sang suami dengan penuh kasih sayang dan berkata, “Jangan khawatir, bergembiralah, sesungguhnya Allah tidak akan mengecewakan dirimu selamanya. Bukankah engkau adalah orang yang suka menyambung silaturahim, suka memikul beban orang lain, suka memenuhi kebutuhan orang yang tak punya, suka memuliakan tamu dan engkau senantiasa membela kebenaran.”
Khadijahlah orang pertama yang beriman pada Nabiyullah saw. Tak hanya itu, dia juga memberikan dukungan penuh atas beban dakwah yang dipanggul suaminya. Waktu, tenaga, pikiran, dan harta diberikannya bagi dakwah dengan sepenuh ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.

2. Fathimah, anak pemimpin yang tak egois
Sejak balita, Fathimah sudah menjalani hidup yang penuh kesulitan dan cobaan. Pada saat itu dakwah tengah dihadang tekanan kaum kafir quraisy yang tidak hanya menyakiti hati namun juga secara terang-terangan menyiksa fisik Nabi dan umat Islam.
Fathimahlah satu-satunya anak yang belum menikah dan karena itu sangat dekat dengan kedua orangtuanya. Fathimah ikut menjalani masa pemboikotan yang memunculkan penderitaan dan kelaparan dan belum tuntas semua itu dijalani, sang bunda, Khadijah pun meninggal dunia.
Kepergian Khadijah menjadikan hubungan Fathimah dan ayahnya, Rasulullah aaw semakin erat. Fathimahlah yang mengurusi ayahnya hingga dia dikenal dengan julukan Ummu Abiha (ibu dari ayahnya). Beban dakwah yang dulu disharing Rasulullah pada Khadijah dengan sepenuh ketulusan kini diambil alih oleh Fathimah.
Penderitaan kaum muslimin berkurang ketika mereka hijrah ke Madinah. Di sini Rasulullah menikah dengan Aisyah dan Fathimah pun tak lagi banyak mengurusi ayahnya. Apalagi tak lama kemudian, Ali melamarnya dan Fathimah pun pindah ke rumah suaminya. Namun kedekatan hubungan mereka masih begitu erat sehingga Rasulullah tak pernah lupa untuk memeluk dan mencium putrinya ini setiap kali Fathimah menemuinya.
Sebagai anak dari pemimpin umat, nabi yang ditaati dan panglima perang yang seringkali memperoleh banyak rampasan perang, Fathimah justru dididik untuk memikirkan orang lain dan tidak mementingkan diri sendiri.
Ketika suatu kali, Ali yang tak mampu mengupah seorang pembantu namun sungguh tak tega melihat Fathimah terkelupas kulit tangannya karena menggiling gandum mengajak Fathmah menghadap Rasulullah untuk meminta satu saja tawanan untuk menjadi pembantu mereka, Rasulullah menjawab, “Demi Allah, aku tidak akan memberikannya kepada kalian sementara orang-orang miskin banyak yang lapar. Maka aku akan menjual tawanan itu dan uangnya untuk mereka.”
Sejak itu, Fathimah pun menjalani hidupnya dalam kondisi sebagaimana yang diajarkan ayahnya, dengan selalu mendahulukan kepentingan orang lain daripada kepentingan diri dan keluarganya sendiri.

3. Maryam, tegar di tengah cobaan
Menjadi seorang gadis mihrab berarti menghabiskan hidup dengan beribadah kepada Allah. Dan Maryam binti Imran, di bawah pengawasan Nabi Zakariya, saudara ibunya, selepas masa menyusui tinggal di sebuah mihrab yang tertutup dan terjaga di pojok sebuah masjid di Baitul Maqdis.
Dia tidak pernah keluar dari sana kecuali untuk waktu-waktu yang sangat khusus seperti saat haid, atau saat buang air. Maka, hingga memasuki masa dewasa, ketekunan Maryam beribadah kepada Allah membentuknya menjadi gadis yang terkenal di tengah masyarakat dengan ketaatan dan kesucian diri.
Selama masa ini pula ketika menengoknya Zakariya beberapa kali menemukan ada makanan dan minuman yang unik di mihrab Maryam, seperti buah-buahan yang tidak sesuai musimnya. “Ini semua dari Allah,” jawab Maryam ketika Zakariya bertanya. Maka yakinlah Nabi Zakariya bahwa Maryam tentulah gadis istimewa yang mengemban misi khusus dalam hidupnya.
Misi itu ternyata sangat menggetarkan hati. Sebuah misi yang sangat berat untuk ditanggung perempuan manapun di seluruh dunia. Suatu hari, malaikat datang menghampiri Maryam dan menyampaikan bahwa Allah akan memberinya seorang anak laki-laki istimewa, anak yang kelak akan menjadi seorang nabi. Maryam terkejut tentu saja namun itulah kehendak Allah. Maryam sang gadis mihrab yang suci dan taat beribadah mendapati dirinya hamil.
Kehamilan tanpa seorang suami selalu mengundang fitnah. Tidak terkecuali pada diri Maryam. Ketika perutnya semakin membesar dan desas desus mulai menudingnya melakukan zina, Maryam pun akhirnya meninggalkan Batul Maqdis dan mengasingkan diri ke ke daerah Baitul Lahm.
Sendiri dan kesakitan menjelang masa melahirkan adalah cobaan berat lain bagi Maryam. Belum lagi segala bayangan masa depan yang semakin suram. Membawa anak, dan harus menghadapi cercaan kaumnya. Tak heran bila beban ini membuat Maryam mengeluarkan kesahnya, “Duhai, seandainya saja aku mati sebelum ini dan dilupakan orang…”
Namun Allah tidak menyia-nyiakan ketaatan hambaNya, sehingga difirmankanlah kepada Maryam kalimat-kalimat yang menentramkan dan membuat Maryam yakin bahwa takdir ini adalah sebuah amanah dakwah bagi dirinya sehingga sirna sudah segala kekhawatirannya (lihat keseluruhan kisah di Quran surat Maryam)
Anak yang kemudian dilahirkannya bernama Isa bin Maryam dan dengan tabah Maryam membawanya pulang ke kampungnya untuk menghadapi orang-orang yang mencelanya hingga sang bayi kemudian berbicara dan membela ibunya.
Cerita hidup Maryam berlanjut dengan pelariannya ke Mesir demi melindungi anaknya yang hendak dibunuh Raja negeri Syam. Raja ini mendapatkan bisikan dari para dukunnya tentang seorang anak yang memilki keistimewaan dan bisa membahayakan kedudukan sang raja.
Belasan tahun kemudian Maryam dan Isa kembali ke Palestina dan di sinilah anaknya diangkat menjadi Nabi. Maryam pun kembali menyaksikan hari demi hari ketika anaknya berdakwah dengan susah payah, ditolak, disakiti dan bahkan akhirnya ditangkap untuk dibunuh. Maryam terus mendampingi hari-hari sulit anaknya sebagai seorang penopang dakwah sekaligus penghibur hati anaknya.
Hingga akhirnya, pada suatu hari Maryam mendapati hari-hari bersama anaknya, satu-satunya teman hidup dan belahan jiwanya harus berakhir. Isa bin Maryam Allah angkat ke langit, meninggalkan Maryam yang dengan tabah menghadapi perpisahan itu. Maryam dikabarkan wafat kira-kira lima tahun sesudah pengangkatan Isa ke langit, masih dalam kesendirian namun dengan sepenuh keimanan kepada Allah swt dan kepada anaknya, Isa as.

4. Asiyah, memilih Allah di atas segalanya
Asiyah binti Muzahim adalah permaisuri dari raja Mesir, Firaun yang sedemikian kuat dan berkuasanya hingga berani menyatakan bahwa dirinya adalah Tuhan yang Maha Kuasa.
Tabiat mereka sesungguhnya bertolak belakang, Firaun yang keras dan kasar dan Asiyah yang lembut dan baik budi. Hal itu juga nampak ketika mereka menemukan bayi yang terhanyut sampai ke tempat pemandian kerajaan. Firaun yang sedang mengumumkan permusuhan dengan setiap bayi lelaki dari Bani Israil karena info ghaib para dukunnya bermaksud membunuh Musa as, sang bayi di dalam peti itu. Namun Asiyah mencegahnya dan bahkan dengan hati lapang mengambil sang bayi menjadi anak asuh mereka.
Musa pun menjadi pangeran kerajaan Firaun. Sikap serta perilaku Musa sejak kanak-kanak hingga dewasa sungguh memikat hati bunda asuhnya ini karena tidak pernah menunjukkan akhlak tercela. Maka ketika Musa telah menjadi nabi dan menyebarkan misi ilahiah dengan mengajak manusia menyembah Allah swt, Asiyah adalah satu di antara sangat sedikit orang yang percaya dan beriman pada Musa as.
Keimanan ini memunculkan konsekuensi berat dan pedih. Firaun murka dan memaksa Asiyah menanggalkan keimanannya pada Allah dan Musa. Dari sekedar teguran, ancaman hingga siksaan ditimpakan Firaun pada istrinya. Dari ratu yang mulia, terhormat dan bergelimang kenikmatan hidup, Asiyah pun tersuruk menjadi perempuan yang dinista dan teraniaya.
Namun setaat-taatnya Asiyah pada suaminya, sehebat dan semenarik apapun tawaran hidup suaminya yang pongah dan buta dari kebenaran, Asiyah memilih Allah dan Rasul-Nya.
Abu Hurairah menuturkan bahwa Rasulullah Saw berkata: “Firaun menyiksa Asiyah sementara kedua tangan dan kaki Asiyah terikat kuat. Maka ketika mereka (Firaun dan pengikutnya) meninggalkan Asiyah dalam keadaan amat kepayahan, malaikat pun datang menaunginya. Di saat itu, Asiyah pun berkata: Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di dalam surga. Maka Allah pun memperlihatkan kepada Asiyah sebelum wafatnya, rumahnya di surga.”
Sungguh, Allah tidak pernah menyia-nyiakan amal-amal setiap hamba-Nya.
(Zirlyfera Jamil)

BAHAYA FOTO AKHWAT di FB

“Alhamdulillah terima kasih sudah di ingatkan”,
” sukron atas ilmunya, bermanfaat sekali” … dan bla..bla..bla…
( ini adalah sebuah ucapan or ungkapan dari beberapa orang yang mendapat artikel tentang memajang foto di FB ) anehnya masihhh juga menampilkan…

“APAKAH KAMU RELA, KECANTIKANMU itu dinikmati oleh ORANG-ORANG yg DEKAT dan JAUH darimu, RELAKAH dirimu MENJADI BARANG DAGANGAN yang MURAH bagi semua orang atau MENJAD I BARANG PAJANGAN yg semua orang dapat melihatnya, baik yg jahat maupun yg terhormat??

Bahaya Foto :

• Pertama, kita tentu sadar internet adalah ruang publik yang bisa dimanfaatkan semua orang hampir tanpa batasan. Dan diantara orang-orang tersebut pastilah terdapat orang yang ingin berbuat zhalim. Dengan teknologi sekarang ini, betapa mudahnya setiap orang memanipulasi sebuah gambar menjadi apa yang dinginkan si manipulator. Dengan memasang foto diri di internet, maka hal tersebut membuka peluang orang-orang zhalim yang tentu saja tanpa izin terlebih dahulu memanipulasi/mengubah sedemikian rupa menurut keinginannya. Bayangkan saja, suatu ketika kita melihat foto diri sang akhwat dari atas berbalutkan jilbab (pakaian muslimah) tetapi bagian bawah dimanipulasi sehingga seakan-akan telanjang ataupun setengah telanjang. Na’udzubillah…..

Dengan aplikasi photoshop orang2 yang tak bertanggungjawab dengan mudah mengganti muka seseorang dengan orang lain, contohnya afwan jiddan seorang akhwat di poto tidak berbusana, dan begitu juga seorang miyabi di edit menjadi berjilbab

Kedua, akhwat (aktivis dakwah) adalah tauladan bagi muslimah yang belum tersentuh dakwah (awwam-red). Namun apa jadinya jika para ujung tombak dakwah bagi teman-teman terdekatnya melakukan suatu hal yang tidak sepatutnya dilakukan oleh seseorang yang notabene telah bertitel “akhwat”. Saat muslimah yang awwam, terlihat fotonya yang bak foto model sebuah majalah remaja mejeng di blog-blog maupun profil jejaring dunia maya mereka hal tersebut bisa kita maklumi dan menjadi hal yang lumrah. Namun apa jadinya kalo seandainya kita berikan suatu nasehat agar tidak melakukan hal itu, karena bisa menjadi suatu fitnah, kemudian mereka berkilah, “lha wong si fulanah yang aktivis dakwah itu aja juga melakukan hal yang sama kok, apalagi saya yang masih jauh dari nilai-nilai agama”. Dan menganggap bahwa hal tersebut tidaklah bertentangan dengan dalih orang yang paham agama pun melakukannya jua..

Ketiga, wajah ayu dan sebuah profil yang terkesan sholehah menjadi daya tarik tersendiri bagi kaum adam. Maka berlomba-lomba-lah mereka untuk menjadi teman, sahabat, atau dalih menjalin ukhuwah yang padahal terkadang hanya didasari sebuah keinginan untuk memiliki sosok ayu nan sholeha tersebut. Sehingga semakin menjadikan para ikhwan/laki-laki yang di hatinya terdapat penyakit menjadi semakin terjerumus dalam asyiknya pertemanan ala ikhwan-akhwat. Dari sisi ini pertama sang pelaku sudah melanggar atau lebih tepatnya tidak mendukung usaha para ikhwan/laki-laki untuk mengamalkan salah satu firman Allah ta’ala:

Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman:
“Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”.(An-nuur: 30)

Dalam sebuah hadits diriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau pernah bersabda kepada Ali radhiyallahu’anhu. “Artinya :
Wahai Ali, janganlah engkau susul pandangan dengan pandangan lagi, karena yang pertama menjadi bagianmu dan yang kedua bukan lagi menjadi bagianmu (dosa atasmu)”. [Hadits Riwayat Ahmad, At-Tirmidzi dan Abu Daud].

Keempat, akhwat yang menampakkan foto dirinya di internet telah melanggar larangan untuk tidak tabarruj dan sufur. Tabarruj artinya seorang wanita menampakkan sebagian anggota tubuhnya atau perhiasannya di hadapan laki-laki asing. Sedangkan Sufur adalah seorang wanita menampak-nampakkan wajah di hadapan lelaki lain. Oleh karena itu Tabarruj lebih umum cakupannya daripada sufur, karena mencakup wajah dan anggota tubuh lainnya.

Tabarruj diharamkan dalam syariat berdasarkan ayat al-Qur’an dan juga hadits, antara lain:
“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu.”
(QS. Al-Ahzab: 33).

Tabarruj memiliki berbagai macam bentuk seperti:
• Menampakkan sebagian anggota tubuhnya di hadapan laki-laki lain.
• Menampakkan perhiasan termasuk di dalamnya pakaian yang ada di balik jilbab.
• Berjalan berlenggak-lenggok di hadapan lelaki lain.
• Memukul kaki untuk menampakkan perhiasan yang dipakainya.
• Melembutkan ucapan di hadapan laki-laki lain.
• Bercampur baur dengan kaum laki-laki, bersentuhan dengan mereka, berjabatan tangan dan berdesak-desakan di tempat atau angkutan umum..

Lalu dimana ‘Iffah dan Haya’ ?

Saudariku yang ana hormati, tentu saudari sudah mengetahui kewajiban dan keutaman berhijab. Dan tentu saudariku juga berusaha semaksimal mungkin untuk mengamalkan setiap makna dan keutamaannya. Ana tidak akan meragukan lagi, pemahaman saudariku akan hal itu. Bahkan di antara saudari-saudariku sudah mengamalkan lebih daripada saudarinya yang lain untuk menggunakan niqob (cadar) yang sebagian menyatakan ini sunnah muakkaddah . Tentu usaha pengamalan mereka ini patut kita hargai lebih dari yang lain.

Namun saudariku, apabila engkau menampakkan gambar dirimu di internet lalu dimanakah esensi hijab sebagai al Haya’ (rasa malu). Sebagai seorang muslimah sejati, tentulah saudariku akan berpikir ribuan kali untuk melakukan hal yang demikian. Padahal Rasullullah Shallallahu’alaih wa sallam bersabda yang artinya: “Sesungguhnya setiap agama itu memiliki akhlaq dan akhlaq Islam adalah malu” sabda beliau yang lain; “Malu adalah bagian dari Iman dan Iman tempatnya di Surga”.

JADI LAH kalian BARANG yg MAHAL, seperti “MUTIARA” bukankah mutiara itu mahal, DIJAGA & DIRAWAT, DISIMPAN BAIK-BAIK serta DIRAWAT, tidak ditaruh DISEMBARANGAN TEMPAT, kecuali tempat yg benar-benar AMAN dan TERJAGA. Jangan menjadi BARANG MURAHAN..

Karna engkau adalah salah satu penyebab dari terjerumusnya kami karna pandangan mata..
Maka Cantik.. Bantu,, BANTULAH AKU MENJAGA MATAKU,, BANTULAH AKU MENJAGA PANDANGANKU… !!!!!!

=====

FATWA SYAIKH SHALEH UTSAIMIN
Syaikh yang mulia Muhammad bin Sholeh al-Utsaimin -rahimahullah- ditanya tentang sikap kebanyakan orang yang menyepelekan melihat gambar wanita ajnabiyyah (bukan mahrom) dengan alasan bahwa itu hanya gambar, tidak hakiki.

Syaikh rahimahullah menjawab, “ini sikap yang menyepelekan sekali, karena jika seseorang melihat wanita, baik melalui video, media cetak, atau selainnya, niscaya hal itu menyebabkan fitnah (kerusakan) di dalam hati seorang lelaki yang menggiringnya untuk melihat wanita tersebut secara langsung. Ini Fakta.

Kami telah mendengar bahwa ada sebagian pemuda yang terfitnah oleh gambar-gambar wanita yang cantik-cantik untuk dinikmatinya, dan ini menunjukkan besarnya fitnah melihat gambar tersebut. Maka tidak boleh seseorang melihat gambar tersebut, baik melalui majalah atau halaman buku, atau selainnya.
(selesai)

552501_375637012490223_462926660_n

Pertanyaan untuk dijawab sendiri :

* Untuk para lelaki :
Ketika anda melihat gambar/foto wanita, apa yang terbesit di dalam hati Anda? Kalau biasa saja, berarti perlu dipertanyakan kenormalannya, atau bisa jadi karena sudah keseringan melihat jadi sudah tidak terpengaruh lagi dengan gambar tersebut? na’udzubillahi min dzalik.

* Untuk para wanita :
Apa yang anti harapkan dari memasang foto-foto anti? apakah anti berharap akan banyak yang suka dengan anti? atau tidak menyadari bahwa sebenarnya foto-foto anti itu telah dinikmati oleh para lelaki yang sedang lemah imannya? Kasihanilah kami kaum lelaki..

(Sumber: http://www.facebook.com/photo.php?fbid=3798464434355&set=p.3798464434355&type=1&theater)