bintang_tersenyum.jpg

Cerpen: Sajadah-Sajadah

Oleh : Retno Wi

sajadah

Siapa sih yang tak tahu sajadah. Barang yang hanya berupa lembaran kain dengan berbagai motif dan bahan itu sangat mudah kita jumpai. Bagi kebanyakan orang sajadah adalah sebuah kemestian ketika hendak melakukan shalat, terutama shalat jamaah. Walaupun sebagian masjid telah menyediakan karpet yang bagus dan mahal, tapi tetap saja sajadah seolah menjadi kebutuhan tersendiri.

Husna tidak menyalahkan keberadaan sajadah. Ia pun juga memiliki sajadah kesayangan. Adakalanya Husna sangat terbantu dengan sajadah, karena dapat menjadi alas ketika shalat, saat menyetrika, maupun saat ingin selonjor tanpa harus kedinginan. Tetapi kali ini Husna memang harus berpikir puluhan kali ketika akan menyertakan sajadah untuk shalat jamaah Maghrib di masjid dekat tempat kosnya. Kebiasaan barunya ini cukup menjengkelkan teman kosnya. Ke masjid selalu terlambat.

“Husnaaaa! Cepetan, ntar telat lagi, lho,” teriak Nina dari luar kamar. Tak ada jawaban.

Klek! Pintu kamar terbuka dan wajah bulat Nina menyembul dengan balutan mukena dari balik pintu.

“Lagi ngapain, sih? Cepet!”

Husna menoleh sekilas. Pandangannya kembali tertuju pada sajadah biru yang terlipat rapi di tepi dipan. Membawanya berarti menyertakan beban berat berton-ton ke masjid. Tapi kalaupun ditinggal bukan berarti masalah akan selesai.

“Bawa… nggak… bawa… nggak… bawa…” Husna menghitung kancing bajunya dengan serius.

“Kamu tuh, mau shalat jamaah apa nggak, sih? Atau mau berangkat sendiri?”

“Sebentar, dong. Lagi pusing, nih. Cerewet amat.”

Husna ragu-ragu menyentuh sajadahnya. Saat jemarinya hampir menyentuh bahan beludru itu, buru-buru ia menariknya. Nina berdecak sebal.

“Ya Allah, Husna. Kalau mau bawa ya bawa. Kalau nggak, ya nggak. Pusing amat!” Husna hanya membisu. “Udahlah aku berangkat duluan aja. Daripada menyaksikan orang yang sajadah-phobinya kumat.”

“Kalau kamu berangkat duluan, aku akan shalat sendiri aja di rumah.”

“Eh, masa gara-gara sajadah sampai nggak ke masjid? Ingat setelah shalat nanti ada rapat terakhir membahas persiapan pesantren adik-adik TPA yang tinggal tiga hari lagi.” Nina memperhatikan tetangga kamarnya dengan seksama. Wajah Husna benar-benar tampak bingung. Dengan sabar yang dipaksakan, akhirnya Nina menjajarinya di dipan. Ia tak lagi peduli dengan jarum jam yang terus bergerak ke arah angka tujuh.

“Sebenarnya ada apa sih?” Husna menatap mata Nina sesaat. Kepalanya lurus lagi.

“Aku, malu…”

“Malu? Malu dengan siapa? Dan kenapa? Tumben kamu yang biasanya cuek bisa malu. Lebih sering kamu itu bersikap yang malu-maluin.”

“Aku serius, Nin!”

“Oke, oke. Tapi kenapa?”

“Yang pasti aku malu gara-gara sajadah itu.”

“Eh, ingat tujuan kita. Kemarin kita bersepakat bahwa akan sering-sering shalat jamaah di masjid. Bukan hanya itu, kita pun tidak boleh mengambil tempat di shaf yang sama. Agar kita bisa membaur dengan remaja dan ibu-ibu yang lain. Katanya ingin membuat forum kajian untuk remaja dan ibu-ibu. Belum-belum sudah mutung. Kapan berhasil dakwah kita kalau seperti ini?”

Husna tersenyum dalam hati melihat Nina berkata sebijak itu. Dalam hati ia senang punya teman yang ceria dan baik seperti Nina. Yah, meskipun sering iseng dan jail.

“Katanya kita ini sodara. Kalau ada masalah kan harus dipecahkan bersama. Apalagi kalau ternyata masalahnya bisa menghambat tujuan mulia kita.”

“Baiklah, tapi kamu harus berjanji satu hal.”

“Oke.”

“Kamu harus serius.” Nina mengangguk mantap.

***

Awalnya Husna begitu senang membawa sajadah birunya ke masjid untuk shalat jamaah. Itu memang sajadah kesayangannya karena ia membeli dari hasil tabungannya. Ia pun berharap sajadahnya bisa membawa berkah. Siapa tahu ada orang yang juga membutuhkan alas shalat. Kalau hal itu terjadi peluang mendapat pahala semakin banyak. Dan ternyata impiannya tidak percuma.

“Terima kasih, Dek. Tadi saya buru-buru ke masjid. Jadi lupa nggak bawa sajadah.” Seorang ibu setengah baya tersenyum ramah ketika Husna membagi sajadah dengannya. Tapi rasa senang itu tidak berlangsung lama. Saat shalat mulai tampaklah sebuah permasalahan yang bagi Husna tidak bisa diremehkan. Shaf shalat tidak rapat. Padahal Umar bin Khattab pernah merapikan shaf dengan pedangnya karena begitu pentingnya shaf yang rapat dan lurus agar tidak ada celah bagi setan untuk mengganggu.

Saat shalat, manusia harus melepaskan semua atribut dunianya. Tak ada lagi perbedaan pangkat, golongan dan kekayaan. Semua jamaah shalat bersatu dan taat kepada sang imam. Tak ada lagi sekat sosial. Yang ada, hanya ketundukan pada Sang Khalik.

Husna meyakini bahwa penyebab utama dari fenomena yang ada di depannya bisa jadi karena mereka tidak tahu betapa pentingnya shaf shalat yang rapat dan rapi. Dan kondisi itu diperparah dengan sajadah. Para jamaah shalat lebih memilih posisi di tengah sajadah masing-masing. Mereka tidak peduli adanya ruang kosong akibat sajadah yang digelar. Bahkan ada beberapa orang yang tanpa beban meletakkan sajadahnya sehasta di sebelah sajadah lainnya. Padahal kalau mau, tempat itu masih bisa diisi satu orang lagi. Tapi entahlah, sepertinya telah menjadi sebuah kesepakatan jika kesalahan dilakukan bersama maka statusnya kan berubah menjadi benar.

Sebenarnya sang imam selalu mengingatkan agar merapatkan dan meluruskan shaf sebelum shalat. Tapi seruan imam itu seperti angin yang berlalu begitu saja. Buktinya setiap hari kondisinya selalu sama. Dan Husna bertekad akan berbuat sesuatu untuk memperbaiki keadaan yang ada. Baginya ini adalah peluang amal yang harus dimanfaatkan.

***

Husna membalas tatapan sinis seorang ibu muda dengan senyum termanisnya. Ibu muda itu kelihatan dari orang yang cukup berada. Mukenanya jelas tergolong mahal, tapi sayang wajahnya tidak ramah. Kalau ia mau tersenyum sedikit saja, pasti kelihatan sangat cantik. Merasa senyumnya tak terbalas, Husna menjadi jengah.

“Ehm… maaf, Tante. Apa ada yang salah dengan saya?” Husna bertanya dengan hati-hati. Suaranya dibuat sepelan mungkin agar tidak mengganggu yang lain.

“Lho, nggak nyadar juga. Tampangnya, sih mahasiswa tapi nggak tahu sopan santun!” jawabnya pedas. Meskipun suara si Tante pelan tapi cukup membuat wajah-wajah di sekitar mereka menoleh.

“Mbak, kenapa nempel-nempel dekat saya? Seenaknya saja menumpuki sajadah saya dengan sajadah murahan! Ini sajadah mahal, saya beli dari Arab saat umrah seminggu yang lalu. Harganya satu juta lebih. Emang kalau lecek dan rusak bisa ngganti?”

Muka Husna seperti disiram lahar Merapi yang baru keluar dari kawah. Wajahnya memerah, telinganya memanas dan kelopak matanya membasah pelan. Pandangannya segera terpaku pada sajadah biru yang menutupi sebagian sajadah si Tante. Dia melakukan semua itu karena ingin shaf shalat menjadi rapat. Apalagi posisinya yang ada di ujung paling kiri barisan membuatnya harus mendekat ke arah kanan. Tapi Husna benar-benar tidak menyangka akan mendapat reaksi seperti itu.

“Maaf Tante, saya hanya tidak ingin shaf-nya renggang.” Husna berkata sehalus mungkin.

“Tidak usah menggurui, saya sudah pernah naik haji dan umrah dua kali.”

Dengan cepat si Tante berdiri dan menyambar sajadah mahalnya. Ia bergegas ke barisan belakang. Tinggallah Husna yang menjadi sorotan berpuluh pasang mata dengan berjuta ekspresi. Ada ekspresi simpati karena kasihan, ekspresi gemes dan gregetan, ekspresi geli karena menahan tawa sampai yang cuek seolah tak terjadi apa-apa. Husna tidak lagi peduli dengan tatapan mata yang tertuju kepadanya. Yang ia rasakan cuma satu: malu!

***

Husna mulai hati-hati bersikap, karena tak semua niat baik berbuntut manis. Kali lain ia duduk di sebelah seorang gadis sebaya. Sajadah gadis itu cukup lebar hampir dua kali sajadahnya.

“Maaf, Mbak. Boleh saya letakkan sajadah saya di bawah sajadah Mbak?”

“Tapi, apa Mbak nggak takut sajadahnya kotor?” Si Gadis agak ragu.

“Insya Allah, nggak apa-apa. Saya cuma ingin shaf shalat kita rapat. Kan setiap mau shalat kita selalu diingatkan imam untuk meluruskan dan merapikan shaf.”

“Oo, begitu, ya. Silakan kalau begitu.”

Setelah mendapat izin, Husna meletakkan sajadahnya di bawah sajadah merah si Gadis.

“Kalau boleh saya tahu, kenapa sih Mbak kita harus rapat shafnya?”

Husna merasa mendapat respon positif. Dia tidak ingin menyiakan kesempatan baik itu.

“Dalam shalat berjamaah, kerapatan shaf merupakan salah satu syarat diterimanya shalat. Kita adalah umat yang satu dan harus tunduk dengan setiap perintah imam. Tak ada lagi perbedaan pejabat dan rakyat biasa, orang kaya dan miskin. Semua menjadi sama di hadapan Allah. Shaf yang rapat juga mencerminkan eratnya hubungan orang muslim, sehingga tidak mudah dipecah belah. Jadi siapapun yang shalat di sebelah kita, kita harus merapatkan shaf dengannya. Shaf yang tidak rapat berarti menyediakan tempat untuk setan yang akan selalu mengganggu kita. Jadi dengan shaf yang rapi, akan membantu kita khusyu’ dalam shalat. Kalau saat kita menghadap Allah saja masih tidak dapat bersatu dan bersama dengan yang lain, bagaimana kita bisa rukun dalam kehidupan sehari-hari?”

Si Gadis mengangguk-angguk dan menyambut hangat seruan Husna. Tapi sambutan hangat itu segera lenyap ketika seorang nenek menghampiri mereka.

“Neng, kenapa sajadah saya dipake? Nenek itu baru belajar shalat dan harus pake sajadah biar nggak kedinginan. Masa baru ditinggal wudhu sebentar sajadah sudah lenyap. Di tempat suci begini kok masih sempat ngembat barang orang.”

Husna berusaha tersenyum dengan tuduhan yang dialamatkan kepadanya.

“Maaf, Nek, saya dari tadi di sini. Dan ini sajadah saya. Mungkin Nenek lupa menaruh sajadah Nenek.” Husna menjaga kalimatnya dengan hati-hati. Gadis di sebelahnya meliriknya curiga.

“Kalau itu memang sajadah Neng, kenapa mesti disembunyikan di bawah sajadah orang lain?” tangan si Nenek menunjuk sajadahnya yang tertutup oleh sajadah si Gadis.

Tiba-tiba si Gadis berdiri.

“Maaf, Mbak. Saya setuju dengan shaf yang rapat, tapi saya nggak mau sajadah saya dijadikan tempat menyembunyikan barang curian. Apalagi dengan kedok merapatkan shaf.” Husna ingin menjelaskan lebih jauh tapi si Gadis terlanjur pergi.

***

Tawa Nina hampir meledak. Ia tutup mulutnya agar tidak bersuara karena teringat pesan Husna. Setelah berhasil menguasai diri ia mulai bersuara .

“Kok nasibmu sial banget. Trus, si Nenek gimana?”

“Pas si Gadis pergi, si Nenek baru sadar bahwa sajadahku memang berbeda, hanya mirip saja. Dia baru ingat bahwa sajadahnya dititipkan ke cucunya.”

“Ya udah, mending nggak usah bawa saja.”

“Sudah kucoba kemarin.”

“Trus hasilnya?”

“Aku harus mencuci mukenaku.”

“Apa hubungannya?”

“Kemarin aku kan telat, terpaksa shalat di teras yang basah karena hujan. Dan tidak ada seorang pun yang membagi sajadahnya untukku. Malah mereka memandang aneh padaku.” Nina mendengus prihatin sekaligus salut dengan upaya keras Husna untuk mengubah budaya shaf yang tidak rapat.

“Ya, sudah. Kesepakatan untuk berpencar selama shalat jamaah kita cabut saja dulu. Untuk shaf yang rapat sepertinya kita harus memberi contoh.”

“Maksudnya?”

“Kita shalat bersebelahan saja. Biar orang-orang melihat kelurusan dan kerapian shaf kita. Sekalian kita mencoba memahamkan tentang pentingnya shaf yang rapat dan lurus. Mungkin perlu kita sosialisasikan lebih gencar. Bisa lewat mading, atau buletin.”

“Sepertinya itu ide yang bagus. Tapi sekarang aku bawa sajadah nggak?”

“Aduuuh! Sajadah lagi, sajadah lagi. Nggak usah bawa aja dulu. Ntar bermasalah lagi.”

Berdua, mereka segera bergegas ke Masjid As Syuhada.. Sampai di masjid, suasana begitu lengang. Shaat Isya telah dimulai. Mereka segera mencari tempat. Shaf shalat memang banyak yang tidak rapat, tapi sepertinya tidak muat kalau diisi, apalagi untuk dua orang sekaligus.

“Sudah, kamu di sini aja. Aku akan mencari tempat lain. Ntar keburu habis shaat Isyanya. Sepertinya ini rakaat terakhir.”

“Tapi kamu kan, nggak bawa sajadah.”

“Nggak apa-apa. Hari ini kan, tidak hujan jadi lantainya nggak basah.”

Setelah bersusah payah akhirnya Husna menemukan tempat yang berada di sela-sela shaf. Sekilas Husna melirik ke kiri, dan dia agak terkejut ketika mengetahui bahwa orang yang sudah shalat di sebelahnya adalah nenek yang menuduhnya mencuri beberapa hari lalu. Sebenarnya Husna ingin mencari tempat lain. Tapi selain susah, juga akan menyita banyak waktu. Husna hampir saja melakukan takbiratul ikram ketika si Nenek menoleh dan tersenyum ke arahnya. Belum hilang rasa kagetnya, si Nenek malah membungkuk dan mengambil sajadahnya. Si Nenek berbagi sajadah dengannya. Reflek Husna menolak.

“Lho, Nek nggak usah. Nenek shalat saja.” Spontan Husna bicara pada Nenek yang seharusnya masih shalat. Ia tidak sadar berbuat salah dengan mengajak bicara orang yang sedang shalat.

“Nggak apa-apa. Maaf ya, kejadian kemarin.” Dengan santai si Nenek melanjutkan shalatnya seolah tidak terjadi apa-apa. Tinggal Husna yang kebingungan dengan semua yang terjadi. Ah, kalau saja aku tadi membawa sajadah pasti pasti Nenek tidak perlu berbuat begitu. Pe-er shaf belum selesai sudah ditambah pe-er Nenek yang harus diajari tentang tata cara shalat yang benar. Semoga ini adalah ladang amal baru yang bisa menjadi pendulang pahala.

Jember, Ramadhan 1425 H

Saat tarawih di Masjid As Syuhada BTN Mastrip

dikutip dari : Majalah Annida

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s